Jujur itu lebih mendamaikan hati
Jujur itu nilainya lebih tinggi
Jujur itu perhiasan hati
Jujur itu berani
Jujur itu murninya hati
Jujur itu membebaskan diri
Minggu, 07 Juni 2015
Arti kejujuran
Yang tersimpan dalam Jiwa itu Abadi
Seseorang tidak dinilai dari warna kulitnya, tidak dinilai dari rambutnya, bola matanya, tidak dinilai dari bentuk fisiknya, tidak dinilai dari apa yang dia kenakan.
Seseorang dinilai dari jiwa yang ada di dalam tubuh tersebut.
Tubuh akan sakit, lemah, keriput, tapi jiwanya bisa terus sehat dan tangguh. Tubuh akan mati, hancur terurai dalam tanah. Tapi jiwa-nya akan terus ada.
*Tere Liye
Teman
Ketika kita memiliki teman, maka bukan berarti kita pasti akan selalu bersamanya. Ada masa-masa kita harus pindah, mengambil kesempatan, melanjutkan sekolah, pekerjaan. Tetapi juga bukan berarti kalau sudah berpisah, maka selesai begitu saja.
Itulah gunanya persahabatan yang sejati, teman lama selalu menjadi teman, atau malah lebih spesial saat bertemu kembali, menjalin kontak kembali. Hei, jika HP, laptop, komputer, mengasyikkan kalau punya yang baru, tapi teman, semakin lama, semakin mengasyikkan.
Selalu begitu.
Teman baik selalu membicarakan hal yang baik-baik tentang kita di belakang. Teman sejati lebih-lebih lagi dari itu, dia bahkan selalu berusaha meluruskan jika ada orang yang menilai keliru tentang kita.
Maka, jelas sekali bukan termasuk teman kita seseorang yang suka bicara menjelek2an kita di belakang. Jangan keliru berteman, dan sebaliknya pastikan bukan kita yang suka bicara di belakang tersebut.
*Tere Liye
Surat kecilku
Dear kamu, calon imamku…
Benarkah itu kamu! Saat ini aku tidak tahu pasti kamu dimana, dengan siapa dan sedang melakukan apa.
Yang aku tahu, suatu saat (nanti) kamu akan menjadi imam dalam keluarga kecilku, kamu yang secara tidak langsung sebagai pengganti sosok Ayah dalam kehidupanku (nanti).
Kamu pula yang akan menjadi “pendamping hidupku“
Tahukah kamu betapa tinggi makna dari sebuah kalimat “pendamping hidup?
Adalah teman hidup yang menentramkan jalan, mengontrol langkah, atau penenang saat pilu datang
Calon imamku…
melalui surat ini, aku ingin mengungkapkan apa yang tidak bisa aku utarakan dengan kata-kata. Maaf jika surat ini kusampaikan pada kamu yang belum jelas kepastiannya, yang masih kuterka-terka kehadirannya.
Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu, tentang kita.
Pertama yang ingin aku ucapkan adalah selamat. Selamat karena Allah telah memberi amanat kepadamu untuk menjagaku :)
Wahai Calon Imamku
Tahukah kamu betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya?
Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak.
Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku.
Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya.
Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat (nanti) kita bersama, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan. Semoga sama halnya dengan dirimu.
Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang didapati.
Aku masih haus akan ilmu.
Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu.
Calon Imamku…
sungguh aku tidak bermaksud untuk memintamu hanya sekedar menjadi imam atau menjadi tulang punggung keluarga.
Kalau niatku hidup denganmu hanya untuk itu, kurasa ada yang salah denganku.
Karena aku tak perlu repot-repot hidup denganmu jika aku hanya menginginkan kekayaan.
Namun tahukah engkau? aku membutuhkanmu sebagai pengarahku untuk menyeberangi dunia ini, dan akhirat (nanti).
Karena perwakilan yang Allah kirim melalui kedua orangtuaku, kini berpindah di tanganmu.
Bahkan kau adalah kelak satu-satunya jalan yang dapat membukakan pintu surga untukku, istrimu.
Hai Calon Imamku…
tak perlu takut ketika kau berada dalam kesusahan (nanti).
Aku tak akan pernah sekalipun meninggalkanmu, asalkan kau juga tak pergi meninggalkanku. Mungkin kau menerka, apakah seandainya kau terjatuh suatu hari nanti, aku akan menuntutmu dan pergi begitu saja? kau salah! aku bukan wanita seperti itu yang dengan tega membiarkan lelakiku berjuang sendiri.
Wahai Calon Imamku…
Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat. Namun (nanti), setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.
Aku ini pencemburu berat.
Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela.
Aku harap begitu pula dirimu.
Calon Imamku..
Ketika (nanti) telah lahir buah cinta dari pernikahan kita, bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.
Bunga akan indah pada waktunya.
Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman.
Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik, tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu (nanti).Calon Imamku…
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahami dirimu.Kukira kamarku bocor, rupanya air mataku yang tanpa kusadari mengalir dan menetes disela jari-jari yang sedang asik mengetik.Bukan, ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kebahagiaan, kamu tahu wahai calon imamku mengapa aku meneteskan air mata! saat jemariku menari diatas keyboard aku membayangkan ketika (nanti) Allah meridhoi dan menyatukan kita menjadi pasangan yang halal, aku membayangkan bagaimana (nanti) kita mencari pahala bersama dan aku membayangkan bagaimana setiap apa yang kita lakukan bersama (nanti) akan bernilai pahala. Keindahan itu yang membuat air mataku mengalir. Calon Imamku juga
Hidup ini indah bila engkau selalu hadir di sisiku setiap waktu, hingga aku hembuskan nafas yg terakhir
http://www.youtube.com/watch?v=d02bJc2ku2o&feature=youtu.be
Jalanku masih panjang
"Jalanku Masih Panjang"
Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira,
untuk kemudian bersedih hati
Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi
Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa?
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?
Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu2 saja,
Mencoret2 buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali
Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru
Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang....
*Tere Liye
Cos Home is in your eyes
Kekasih,
Aku tak akan lelah untuk mendoakanmu.
Aku tak akan lelah untuk mendukungmu.
Aku tak akan lelah untuk memperhatikanmu.
Aku tak akan lelah untuk mencintaimu.
.
Dan perihal rindu, jangan sekali pun khawatir dengan keadaanku.
Percayalah, di sini aku menjaga rindu dengan begitu hati-hati.
Sibuklah dengan segala urusanmu.
Aku tahu, duniamu juga bukan hanya tentang aku.
.
Rencanakan semua hal-hal yang kau inginkan untuk masa depan.
Semua akan kuaminkan.
Dan semoga aku menjadi bagian dari rencana-rencana masa depanmu.
Jika kau temui lelah, kemarilah.
.
Giliran ini menjadi tugasku.
Kupeluk kau erat-erat.
Lalu akan kubisikkan; aku percaya kau bisa melewatinya, jangan pernah merasa berjuang sendirian, kau tahu tak sedetik pun aku berlalu darimu, aku selalu berada di sampingmu.
Kekasih, tersenyumlah untuk kita.
.
Meski jalan menuju masa depan sangat sempit, aku percaya kita sanggup menaklukkannya.
Genggamlah aku seerat yang kau mau.
Seperti kau begitu tak ingin kehilanganku.
.
Terima kasih untuk semua hal terbaik yang telah kau usahakan untukku.
Semoga perjuanganmu, perjuanganku, perjuangan kita, benar-benar direstui Tuhan dan semesta.
.
Aku percaya, sejauh apa pun kau melangkah, tempat pulangmu adalah aku. :')
.